Senin, 03 September 2012

Askep Cacat Ganda


BAB I
PENDAHULUAN


I.1  Latar Belakang

Pendengaran merupakan lintasan sensorik yang primer melalui anak, secara normal memperkembangkan kemampuan berbicara serta bahasa mereka. Gangguan pendengaran pada usia berapapun dapat terjadi, kendati hanya merupakan gangguan pendengaran dengan derajat yang ringan sekalipun, akan dapat mengakibatkan terjadinya permasalahan pada kemampuan berbicara, penguasaan bahasa serta belajar. Oleh karena itu merupakan sesuatu yang esensial bahwa terdapatnya kehilangan pendengaran pada anak dapat dikenali sedini mungkin serta pengelolahannya direncanakan dengan segera. Ketrampilan yang dimiliki oleh audiologist yang bersangkutan adalah esensial dalam mengenali terdapatnya derajat tipe gangguan pendengaran yang bersangkutan.
Komunikasi merupakan kebutuhan dasar manusia sebagai suatu sarana untuk mengungkapkan konsep pikiran, perasaan dan emosi. Salah satu komponen utama dalam berkomunikasi adalah kemampuan untuk berbicara dan berbahasa. Wicara merupakan salah satu kemampuan yang diperoleh melalui suatu proses perkembangan yang rumit, dimulai segera setelah bayi lahir. Secara umum gangguan wicara diakibatkan oleh faktor organik, fungsional, ataupun keduanya. Wicara adalah kemampuan berbahasa vokal (motorik) dengan mengartikulasikan bahasa. Untuk dapat berbahasa membutuhkan kemahiran reseptif (memahami bahasa), mengelolah infformasi yang diterima dan kemampuan ekspresif (mengemukakan ide/kehendak, gagasan, dan pengetahuan kepada orang lain). Ekspresi bahasa dapat disampaikan dalam bentuk wicara, mimik, isyarat, tulisan maupun bahasa tubuh. Gangguan wicara pada anak erat kaitannya dalam proses tumbuh kembang. Ada tidaknya gangguan wicara pada anak dapat dinilai dan dievaluasi dengan membandingkan proses pematangan dan kemampuan inividu normal.
Pada anak kemampuan berbahasa dan/atau wicara dapat normal, terlambat, terganggu atau menyimpang dari pola normal. Ketidaktahuan akan tahap perkembangan mendengar dan wicara menyebabkan kelambatan penemuan dini kasus-kasus gangguan wicara yang tentu saja berakibat pada terlambatnya penanganan kasus.
Saat ini di Indonesia beluam ada data pasti mengenai jumlah kasus anak dengan gangguan wicara dan berbahasa. Data dari 808 anak yang datang dengan masalah gangguan wicara di Pusat Kesehatan Telinga dan Gangguan Komunikasi bagian THT RSCM menunjukan 82.79 % disebabkan gangguan pendengaran, sedangkan 15.35 % anak dengan gangguan wicara tanpa masalah pendengaran.

I.2  Rumusan Masalah
Kemampuan berbicara daan mendengar pada manusia diperoleh melalui suatu proses tumbuh kembang yang dipengaruhi oleh berbagai faktor termasuk faktor usia. Proses perkembangan dan pertumbuhan ini tentunya melalui berbagai tahapan yang harus dialalui oleh anak/bayi untuk dapat mencapai kemampuan berbicara dan mendengar secara baik.
Berdasarkan uraian tersebut diatas maka yang menjadi term of reference dalam makalah ini adalah :
q  Apa yang dimaksudkan dengan cacat ganda ?
q  Bagaimana proses perkembangan mendengar dan berbicara pada anak ?
q  Faktor-faktor apa sajakah yang menjadi penyebab terjadinya (etiologi) gangguan bicara dan gangguan pendengaran ?
q  Bagaimana pathofisiologi, manifestasi klinis yang terjadi serta pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan pada cacat ganda ?
q  Bagaimana penatalaksanaan dan asuhan keperawatan yang diberikan kepada klien (anak) yang menderita cacat ganda ?


BAB II
PEMBAHASAN


II.1  Pengertian

Cacat ganda merupakan keadaan dimana terjadi kerusakan atau disfungsi perkembangan pendengaran yang bersifat sensorineural yang diikuti oleh kerusakan perkembangan berbahasa atau komunikasi. Gangguan pendengaran pada usia berapapun dapat terjadi, kendati hanya merupakan gangguan pendengaran dengan derajat ringan sekalipun akan dapat mengakibatkan timbulnya permasalahan pada kemampuan berbicara, penguasaan bahasa serta belajar.
Permasalahan yang paling utama dalam perkembangan anak-anak yang menderita kehilangan pendengaran yang parah sampai berat/mendalam, adalah kemampuan mereka untuk mengadakan komunikasi secara lisan dan bahasa yang mengalami gangguan. Anak yang tuli memang memperkembangkan suatu bahasa serta serta anak tuli, yang lahir pada orang tua yang tuli pulah mampu melakukan komunikasi satu sama lainnya serta serta dengan para orang tua mereka dengan efektif.
Kemampuan berbicara seseorang erat kaitannya dengan kemampuan mendengar. Stimulus bunyi dalam perjalannya akan sampai pada pusat pendengaran yang terletak pada salah satu bagian belahan otak kiri. Informasi bunyi ini akan diteruskan kebagian lainnya dari otak yang berperan sebagai pusat bicara dan akan menghasilkan sinyal bicara. Berdasarkan sinyal bunyi ini dimulai proses produksi bunyi.
Untuk menghasilkan bunyi prosesnya juga tidak sederhana karena dibutuhkan kerjasama berbagai organ tubuh dimulai dari aliran udara pernafasan yang berasal dari paru-paru, getaran pita suara (fonasi) yang dilewati aliran udara sehingga di hasilkan nada tertentu, pipa tenggorokan yang berperan sebagai tabung udara yang menimbulkan getaran pada saat dilalui udara (resonansi), penutupan langit-langit lunak agar udara tidak memasuki rongga hidung dan pengatupan bibir dengan maksud udara terkumpul di rongga mulut, yang akan membuka pada saat telah terjadi getaran pita suara. Proses ini masih diikuti dengan gerakan tertentu dari otot-otot lidah, rongga mulut dan gigi sehingga terjadi penyusupan suara kedalam bentuk kata-kata yang akan menandai karakter ujaran manusia (artikulasi).
Kerja berbagai organ tubuh ini dalam waktu yang hampir bersamaan dan terkoordinasi dimungkinkan oleh gerakan berbagai otot yang berada dalam kendali otak melalui syaraf-syaraf terkait. Berdasarkan keterangan tersebut di atas, sudah jelas bahwa gangguan pendengaran bilateral pada anak (terutama derajat sedang dan berat), yang terjadi didalam masa perkembangan wicara akan mengakibatkan gangguan wicara. 

II.2  Proses  Perkembangan Bicara dan Mendengar

  1. Proses Perkembangan Mendengar
Kemampuan mendengar pada manusia diperoleh melalui suatu proses tumbuh kembang sehingga dipengaruhi oleh berbagai faktor terutama faktor usia. Pada bayi spektrum frekuensi suara masih terbatas dan umumnya lebih sensitif terhadap bunyi dengan nada inggi. Demikian pulah dengan reaksi yang diperlihatkan terhadap bunyi dipengaruhi oleh faaktor usia. Sampai beberapa minggu setelah setelah lahir reaksi bayi terhadap bunyi masih bersifat refleks, seperti menangis, terkejut, mengejapkan mata, membuka mata, gerakan menarik lengan kearah tubuh, dan bernapas cepat.
Pada usia sekitar 4 bulan, saat otot-otot mata telah cukup kuat maka iaa akan berupaya mencari sumber bunyi dengan menggerakan bola matanya dan bila otot-otot lehernya telah kuat bayi akan mampu mencari sumber bunyi dengan menolehkan kepalanya. Reaksi terhadap bunyi juga dipengaruhi oleh pengalaman yang diperoleh sebelumnya, baik berupa hal yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan. Kekerasan bunyi (intesitas) yang dibutuhkan untuk menimbulkan respon juga dipengaruhi oleh faktor usia.
Secara lebih terperinci tahap perkembangan fungsi pendengaran dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel. 1  Perkembangan Fungsi Pendengaran

Usia (bulan)
Perkembangan fungsi Pendengaran
Lahir




2 – 3

3 – 4

4 – 6


6 – 8


8 – 10

10 – 12



18

24
36

48
- Berespon terhadap bunyi keras dengan refleks jejak
- Berespon terhadap suara manusia dibandingkan dengan suara lain
- Menjadi tenang dengan bunyi bernada rendah, seperti ninabobok atau denyut jantung.
Memalingkan kepala kesamping bila bunyi dibuat setinggi telinga
Melokalisasi bunyi dengan memalingkan kepala ke samping melihat kearah yang sama.
- Dapat melokalisasi bunyi yg dibuat dibawah telinga, diatas telinga, akan memalingkan muka keatas atau kebawah.
- Mulai membuat bunyi tiruan
- Melokalisasi bunyi dengan memalingkan kepala kearah melengkung
- Berespon terhadap nama sendiri
Melokalisasi bunyi dengan memalingkan kepala secara diagonal dan langsung kearah bunyi.
- Mengetahui beberapa kata dan artinya seperti tidak atau nama anggota keluarga.
- Belajar untuk mengendalikan dan menyesuaikan respon sendiri pada bunyi.
Mulai mendiskriminasikan antara bunyi yang sangat berbeda, seperti mendengarkan bunyi bel pintu dan telpon.
Menyaring keterampilan diskriminatif kasar
Mulai membedakan perbedaan yang lebih halus dalam bunyi bicara, seperti antara e dan er.
- Mulai membedakan bunyi serupa seperti f dan th atau antara s dan f.
- Mendengarkan menjadi lebih halus
- Mampu untuk diuji dengan audiometer



  1. Proses Perkembangan Bicara
Ada beberapa tahap perkembangan berbicara pada seorang anak. Pada bayi baru lahir kontak dengan lingkungan telah dimulai walaau hanya berupa ekspresi wajah atau menangis. Tahap perkembangan berbicara paling awal adalah menangis (refleks vocalization), yang akan diikuti oleh tahap kedua yang berlangsung pada usia 5 – 6 bulan berupa ocehan ulang (babbling). Bunyi yang dihasilkan merupakan penggabungan konsonan atau huruf mati seperti p, m, b, g dengan huruf vokal yang diulang, misalnya: papapa, mamama, atau gagaga seperti sedang berguman.
Pada usia sekitar 6 – 7 bulan, penggulangan bunyi tidak lagi bersifat refleks namun karena bayi benar-benar mendengarkannya dan menyukaianya (lailing), bunyi yang diproduksi misalnya: pa..pa, ma..ma, mi..mi dan sebagainya. Pada usia 10 bulan suara yang dihasilkan merupakan peniruan terhadap sejumlah bunyi suara sendiri atau bunyi yang didengar dari lingkungannya (echolalia). Selanjutnya pada usia 12-18 bulan telah dapat memproduksi kelompok kjata atau kalimat pendek (true speech), anak sudah memperlihatkan kemampuan pemahaman bicara dan bahasa. Anak telah dapat mengerti pembicaraan orang lain sebatas pengalaman dengar yang telah dimilikinya. Apabila pada usia ini anak tidak mampu mengoceh atau meniru pembicaraan orang lain maka perlu diwaspadai terhadap kemungkinan adanya gangguan berbicara.
Secara lebih terperinci tahap perkembangan kemampuan berbicara serta berbahasa dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel. 2  Karakteristik utama perkembangan bahasa dan bicara


Usia (tahun)
Perkembangan bahasa normal
Perkembangan bicara normal
Kejelasan
1












2











3









4 – 5














5 – 6



- Mengatakan 2 – 3 kata dengan arti.
- Meniru bunyi-bunyi binatang.









- Menggunakan frase 2 atau tiga kata.
- Mempunyai perbenda-haraan kata kira-kira 300 kata.
- Menggunakan ‘saya’, ‘aku’ dan ‘kamu.’





- Mengatakan empat sampai lima kalimat.
- Mempunyai 900 per-bendaharaan kata.
- Menggunakan siapa, apa, dimana dalam bertanya.
- Menggunakan kata majemuk & kata ganti.

- Mempunyai 1500 sa-mpai 2100 perbenda-haraan kata.
- Mampu menggunakan bentuk gramatik dgn benar seperti kalimat masa lampau dari kata kerja ‘kemarin.’
- Menggunakan kalimat lengkap dengan kata benda, kata kerja, pre-disposisi, kata sifat, kata keterangan dan penghubung.

- Mempunyai perbenda-haraan kata 3000 kata, memahami ‘jika’, ‘ka-rena’ dan ‘mengapa’
- Mengabaikan hampir semua konsonan akhir dan beberapa konsonan awal.

- Mengganti konsonan m, w, p, b, k, g, n, t, d, dan h dengan bunyi yang lebih sulit.




- Menggunakan kon-sonan diatas dengan huruf hidup, tetapi secara tidak konsisten dgn banyak penggan-tian.
- Pengabaian konsonan akhir
- Keterlambatan artiku-lasi dibelakang perben-daharaan kata.

- Menguasai ‘b, t, d, k dan g’, bunyi ‘r’ dan ‘l’ mungkin masih tidak jelas, mengabai-kan atau menambahkan ‘w’
- Pengulangan dan keragu-raguan umum terjadi.

- Menguasai ‘f’ dan ‘v’ mungkin masih tidak jelas ‘r’, ‘l’, ‘s’, ‘z’, ‘ch’, ‘y’, dan ‘th.’
- Sedikit atau tidak ada pengabaian dari konso-nan awal atau akhir.








Mengiasai r, l, dan th mungkin menyimpang pada s, z, sh, dan j (biasanya dikuasai pada usia 7,5 sampai 8 tahun)
-     Biasanya tidak lebih dari 25% kejelasan untuk pendengaran yang tidak di kenal.
-     Ketinggian bahasa tertentu yang tidak jelas pada usia 18 bulan


Pada usia 2 tahun kejelasan 50% dalam konteks.









Pada usia 3 tahun, kejelasan 75%.








Bicara jelas 100% meskipun bunyi ma-sih tidak sempurna.

II.3  Etiologi

Secara umum diketahui beberapa faktor yang diketahui menjadi faktor penyebab terjadinya kerusakan pendengaran yang berdampak pada gangguan berbicara (cacat ganda) yaitu sebagai berikut :
  • Masa prenatal :
1)      Genetik herediter
2)      Non genetik, seperti gangguan pada masa kehamilan (infeksi oleh bakteri atau virus: TORCH, campak, parotis), kelainan struktur anatomik (misalnya akibat obat-obatan ototoksik, atresia liang telinga, aplasia koklea), dan kekurangan zat gizi.
  • Masa perinatal :
Prematuritas, berat badan lahir rendah (< 2.500 gram), tindakan dengan alat pada proses kelahiran (ekstraksi vacum, forcep), hiperbilirubinemia (> 20 mg/100ml), asfiksia, dan anoksia otak merupakan faktor resiko terjadinya cacat ganda.
  • Masa postnatal :
Adanya infeksi bakterial atau virus seperti rubela, campak, parotis, infeksi otak, perdarahan pada telinga tengah dan trauma temporal dapat menyebabkan tuli konduktif yang dapat mengakibatkan gangguan wicara.

II.4  Patofisiologi

Permasalahan yang paling utama dalam perkembangan anak-anak yang menderita kehilangan pendengaran yang parah sampai berat/mendalam, adalah kemampuan mereka untuk mengadakan komunikasi secara lisan dan bahasa yang mengalami gangguan. Untuk menghasilkan bunyi prosesnya juga tidak sederhana karena dibutuhkan kerjasama berbagai organ tubuh dimulai dari aliran udara pernafasan yang berasal dari paru-paru, getaran pita suara (fonasi) yang dilewati aliran udara sehingga di hasilkan nada tertentu, pipa tenggorokan yang berperan sebagai tabung udara yang menimbulkan getaran pada saat dilalui udara (resonansi), penutupan langit-langit lunak agar udara tidak memasuki rongga hidung dan pengatupan bibir dengan maksud udara terkumpul di rongga mulut, yang akan membuka pada saat telah terjadi getaran pita suara. Proses ini masih diikuti dengan gerakan tertentu dari otot-otot lidah, rongga mulut dan gigi sehingga terjadi penyusupan suara kedalam bentuk kata-kata yang akan menandai karakter artikulasi.
Berbagai faktor penyebab seperti kelainan struktur anatomi, infeksi oleh mikroorganisme, atau penyebab lain akan menyebabkan kerusakan pada struktur koklea dan nervus akustik berupa atrophi dan degererasi sel-sel rambut penunjang pada organ dan reseptor corti disertai perubahan vasculer pada stria vaskularis. Hal ini akan menyebabkan gangguan penghantaran/transmisi impuls pada nuclei cochlearis (sebagai tempat untuk merespon frekuensi bunyi) dan nuclei olivaris superior (sebagai penentu ketepatan lokasi dan arah sumber bunyi) yang menyebabkan impuls ini tidak dapat dipersepsikan oleh nervus auditorius melalui serabut eferent.
Kerja berbagai organ tubuh ini dalam waktu yang hampir bersamaan dan terkoordinasi dimungkinkan oleh gerakan berbagai otot yang berada dalam kendali otak melalui syaraf-syaraf terkait. Berdasarkan keterangan tersebut di atas, sudah jelas bahwa gangguan pendengaran bilateral pada anak (terutama derajat sedang dan berat), yang terjadi didalam masa perkembangan wicara akan mengakibatkan gangguan wicara. 

II.5  Manifestasi Klinik

Manifestasi klinik yang timbul pada anak yang mengalami gangguan pendengaran yang diikuti oleh gangguan berkomunikasi adalah :
ü  Pendengaran akan berkurang secara perlahan-lahan, progresif dan simetris pada kedua telinga.
ü  Telinga berdenging
ü  Klien dapat mendengar suara tetapi sulit memahaminya
ü  Dapat disertai oleh nyeri, tinitus, dan vertigo
Berdasarkan perkembangan fungsi pendengaran diatas, ada beberapa indikator yang dapat digunakan untuk mendeteksi adanya adanya kerusakan pendengaran :
q  Respon Orientasi
-          Kurangnya refleks beguman atau mengedip pada bunyi keras
-          Menetapnya refleks Moro diatas 4 bln (dihubungkan dengan retardasi mental)
-          Kegagalan untuk terbangun oleh kebisingan lingkungan yang keras selama masa bayi
-          Kegagalan untuk melokalisasi sumber bunyi pada usia 6 bln
-          Kesamaan umum pada bunyi
-          Kurangnya respon terhadap kata yang diucapkan, gagal untuk mengikuti petunjuk verbal
-          Respon terhadap bising keras sebagai perlawanan terhadap bunyi
q  Vokalisasi dan Produksi Bunyi
-          Kualitas monoton, bicara tidak jelas, kurang tertawa
-          Kualitas normal pada kehilangan auditorius pusat
-          Kurang pengalaman bermain bunyi dan menjerit
-          Penggunaan normal jargon selama awal masa bayi kehilangan auditorius pusat.
-          Tidak ada gumanan atau perubahan nada suara pada usia 7 tahun.
-          Kegagalan untuk mengembangkan bicara yang jelas pada usia 24 bulan.
-          Bermain vokal, membenturkan kepala, atau ketukan kaki untuk sensasi vibrasiBerteriak atau bunyi melengking untuk mengekspresikan kesenangan, kejengkelan, atau kebutuhan.
q  Perhatian Visual
-          Menambah kesadaran visual dan perhatian
-          Berespon lebih banyak pada ekspresi wajah daripada penjelasan verbal.
-          Waspada pada sikap tubuh dan gerakan
-          Penggunaan sikap tubuh bukan verbalisasi untuk mengekspresikan keinginan, khususnya setelah 15 bulan
q  Hubungan Sosial dan Adaptasi
-          Kuang berminat dan kurang terlibat dalam permainan vokal preokupasi terus-menerus dengan benda daripada orang
-          Menghindari interaksi sosial, sering bingung dan tidak bahagia dalam situasi tersebut
-          Ekspresi wajah bertanya, kadang bingung
-          Kesadaran curiga, kadang diintepretasikan sebagai paranoia, bergantian dengan kerjasama
-          Reaktivitas nyata terhadap pujian, perhatian, dan afeksi fisik
-          Menunjukan kurang minat kepada teman sebaya dalam percakapan
-          Sering tidak memperhatikan kecuali jika lingkungan tenang dan pembicara dekat dengan anak
-          Lebih responsif pada gerakan darpada bunyi
-          Terus menerus memperhatikan kecuali wajah pembicara, berespon lebih terhdap ekspresi wajah daripada verbalisasi
-          Sering meminta pengulangan pertanyaan
-          Mungkin tidak mengikuti pengarahan dengan tepat
q  Perilaku Emosional
-          Menggunakan kemarahan untuk memancing perhatian pada dirinya atau kebutuhannya
-          Sering keras kepala karena kurangnya pemahaman
-          Peka rangsang karena tidak memahami
-          Malu, takut dan menarik diri
-          Sering tampak bermimpi dalam dunianya sendiri atau tidak perhatian sama sekali.

Selain itu adapun petunjuk yang dapat dijadikan sebagai pedoman rujukan mengenai kerusakan komunikasi yaitu sebagai berikut :

Tabel. Pedoman rujukan mengenai kerusakan komunikasi
Usia
Temuan Pengkajian
2 tahun




3 tahun




5 tahun





Usia Sekolah





Umum
-     Gagal untuk berbicara kata-kata bermakna secara spontan
-     Penggunaan sikap tubuh yang konsisten bukan vokalisasi
-     Kesulitan dalam mengikuti petunjuk verbal
-     Gagal untuk berespon secara konsisten terhadap bunyi

-     Bicara sangat tidak jelas
-     gagal untuk menggunakan kalimat dari tiga kata-kata atau lebih
-     Sering mengabaikan konsosnan awal
-     Penggunaan huruf hidup bukan konsonan

-     Gagap atau jenis ketidakfasihan yang lain
-     Struktur kalimat secara nyata terganggu
-     Mengganti suara-suara yang mudah dihasilkan dengan bunyi-bunyi yang sulit
-     Menghilangkan ujung kata (jamak, kalimat kerja, dan sebagainya)

-     Kualitas suara buruk (monoton, keras, atau hampir tidak terdengar)
-     Nada suara tidak jelas untuk usianya
-     Adanya distorsi, pengabaian atau penambahan bunyi setelah 7 tahun
-     Bicara yang berhubungan dicirikan dengan penggunaan konfusi yang tidak biasa atau kebalikan

-     Ada anak dengan tanda-tanda yang menunjukan kerusakan pendengaran
-     Ada anak yang malu atau terganggu oleh bicaranya sendiri
-     Orang tua yang perhatiannya terlalu berlebihan atau yang terlalu menekan anak untuk bicara pada tingkat diatas usia yang seharusnya.


II.6  Pemeriksaan Diagnostik

Terdapat berbagai jenis pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk menilai kemampuan mendengar yang dapat merusak gangguan wicara anak/bayi yaitu :
1)      Pemeriksaan secara kualitatif dengan menggunakan garpu tala yang meliputi :
ü  Tes penala
ü  Tes Rinne
ü  Tes Weber
ü  Tes Schwabach
2)      Pemeriksaan secara kuantitatif yang meliputi :
ü  Free field test untuk menilai kemampuan anak dalam memberikan respon terhadap sumber bunyi.
ü  Behavioral observation, (0-6 bulan)
ü  Conditioned test, (2-4 tahun)
ü  Audiometri nada murni (anak > 4 tahun yang kooperatif)
ü  BERA (brain evoked response audiometry), yang dapat memberikan informasi obyektif tentang fungsi pendengaran pada bayi baru lahir.

 

II.7  Penatalaksanaan

Penemuan kasus gangguan pendengaran dan bicara serta berbahasa dalam bentuk apapun harus dilakukan sedini mungkin, sehingga dapat dilakukan penanganan lebih cepat sehingga cacat bicara ataupun komunikasi ini dapat diatasi. Dengan memahami tahapan perkembangan bicara dan mendengar, diharapkan orang tua dapat segera membawa anak yang diduga mengalami keterlambatan atau gangguan berbicara dan mendengar tersebut pada ahlinya.
Untuk memastikan bentuk gangguan bicara dan jenis kerusakan pendengaran serta upaya penanganan yang sesuai diperlukan kerjasama dengan sejumlah ahli dari berbagai disiplin ilmu, antara lain: dokter THT, dokter syaraf anak, ahli psikologi, ahli jiwa, dan ahli terapi bicara.


II.8  Asuhan Keperawatan

a.                                           Pengkajian :
q  Pengkajian Fisik
q  Anamnese, yang meliputi :
1.       Riwayat Keluarga :
-          Gangguan genetik yang berhubungan dengan kerusakan pendengaran atau berbicara.
-          Anggota keluarga, khususnya saudara ataupun orang tua dengan gangguan pendengaran atau bicara.
2.      Riwayat Prenatal :
-          Keguguran/abortus
-          Penyakita yang menyeratai kehamilan (rubella, sifilis, diabetes)
-          Pengobatan yang diperoleh selama kehamilan
-          Eklamsia
3.      Riwayat Persalinan :
-          Durasi persalinan, tipe persalinan
-          Gawat janin
-          Presentasi (terutama letak sungsang)
-          Pengobatan yang digunakan
-          Ketidakcocokan darah
4.      Riwayat Kelahiran
-          Berat badan lahir < 1500 g
-          Hiperbilirubinemia yang berlebihan merupakan indikasi untuk exchange transfusi
-          Asfiksia berat
-          Prematuritas
-          Infeksi virus perinatal kongenital (sitomegalivirus, rubela, herpes, sifilis, toksoplasmosis)
-          Anomali kongenital yang mengenai kepala dan leher
5.      Riwayat Kesehatan Masa lalu
-          Immunisasi
-          Penyakit sistem syarat seperti meningitis bakterial
-          Kejang
-          Demam tinggi yang tidak diketahui penyebabnya
-          Obat ototoksik
-          Pilek, infeksi telinga dan alergi
-          Kesulitan penglihatan
-          Terpapar bising yang berlebihan
6.      Perkembangan Pendengaran
-          Kekhawatiran orang tua mengenai kerusakan pendengan (apa petunjuknya serta usia berapa)
-          Respon terhadap suara, bising yang keras, bunyi dengan frekuensi yang berbeda.
-          Akibat pengujian audiometrik sebelumnya
7.      Perkembangan Bicara
-          Usia berguman, kata pertama yang bermakna dan frase
-          Kejelasan bicara
-          Perbendaharaan kata terakhir
8.      Perkembangan Motorik
-          Usia duduk, berdiri dan berjalan
-          Tingkat kemandirian dalam perawatan diri, makan, toileting, dan berdandan
9.      Perilaku Adaptif
-          Aktivitas bermain
-          Sosialisasi dengan anak lain
-          Perilaku; tempertranum, menyerang, self-vexation, stimulus fibrasi
-          Pencapaian pendidikan
-          Perilaku terbaru/atau perubahan kepribadian



b.      Diagnosa Keperawatan :
1)      Perubahan sensori/persepsi (auditorius) berhubungan dengan kerusakan pendengaran.
2)      Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan ketidakmampuan untuk mendengar petunjuk audiotorius.
3)      Perubahan pertumbuhan dan perkembangan yang berhubungan dengan kerusakan komunikasi.
4)      Perubahan proses keluarga berhubungan dengan diagnosa ketulian pada anak.
5)      Resiko tinggi cedera berhubungan dengan bahaya lingkungan, infeksi.
6)      Hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi/peradangan.
7)      Kecemasan orang tua berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang konisi anaknya.

c.       Intervensi Keperawatan/Rasional
Perubahan sensori/persepsi (auditorius) berhubungan dengan kerusakan pendengaran.
§  Sasaran : Pasien mengalami potensial pendengaran maksimum.
§  Hasil yang diharapkan :
-          Anak memerlukan dan menggunakan alat bantu dengar dengan tepat.
-          Anak tidak memakan/teraspirasi batere alat bantu dengar
§  Intervensi :
-          Bantu keluarga mencari penyalur alat bantu dengar.
Rasional : Untuk menentukan satu alat yang dapat dipercaya.
-          Diskusikan tipe alat bantu dengar dan perawatannya yang tepat.
Rasional : Untuk menjamin keuntungan yang lebih maksimum.
-          Tekankan pada keluarga pentingnya penyimpanan alat batu dengar dan ajari anak untuk menggunakan dan mengatur alat bantu dengar tersebut.
Rasional :   Untuk mencegah anak memakan alat bantu dan memanfaatkannya secara maksimum.
-          Bantu anak berfokus pada semua bunyi dilingkungan dan mendiskusikan hal tersebut.
Rasional :    Untuk memaksimalkan pendengaran.
-          Untuk anak yang lebih besar, diskusikan metode penyamaran alat bantu
Rasional :    Untuk membuatnya tidak menyolok dimata/dilihat.

Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan ketidakmampuan untuk mendengar petunjuk audiotorius.
§  Sasaran :
-          Pasien terlibat dalam proses komunikasi dalam batas kerusakan
-          Pasien menunjukan kemampuan membaca gerak bibir.
§  Hasil yang diharapkan :
-          Klien terlibat dalam proses komunikasi dalam batas kerusakan.
-          Pasien menunjukan kemampuan untuk membaca gerak bibir.
-          Anak berkomunikasi dengan orang lain dengan cara yang diajarkan.
-          Individu yang berkomunikasi denga anak menggunakan teknik komunikasi yang baik.
§  Intervensi :
-          Dorong keluarga untuk ikut dalam program rehabilitasi dengan mempelajari bahasa isyarat.
Rasional :      Melanjutkan pembelajaran dirumah dengan bahasa isyarat sebagai metode komunikasi.
-          Ajari bahasa untuk menyampaikan tujuan yang bermanfaat.
Rasional :      Membantu dalam proses komunikasi.
-          Dorong penggunaan bahasa dan buku dirumah.
Rasional :      Merangsang komunikasi verbal dan meningkatkan perkembangan normal.
-          Dorong klien untuk memperbaiki bicara dan menggunakan bahasa spontan.
Rasional :      Meningkatkan perkembangan bicara.
-          Melakukan tes untuk masalah penglihatan.
Rasional :      Mengidentifikasi masalah penglihatan yang dapat mengganggu pembelajaran membaca gerak bibir atau penggunaan bahasa isyarat.
-          Ajari keluarga dan orang lain yang terlibat dengan anak tentang perilaku yang memudahkan untuk membaca gerak bibir.
Rasional :      Meningkatkan proses komunikasi.

Perubahan pertumbuhan dan perkembangan yang berhubungan dengan kerusakan komunikasi.
§  Sasaran :
-          Pasien mencapai kemandirian optimal sesuai dengan usia.
-          Pasien mendapatkan kesempatan untuk berpartisipasi dalam aktivitas bermain dan sosialisasi.
-          Pasien mendapat kesempatan pendidikan dikelas reguler.
§  Hasil yang diharapkan :
-          Anak melakukan aktivitas hidup sehari-hari sesuai dengan tingkat perkembangan.
-          Anak mempunyai hubungan dan pengalaman dengan teman sebaya.
-          Anak masuk sekolah dengan teratur.
-          Anak berkomunikasi dengan orang lain dikelas.
§  Intervensi :
-          Bantu keluarga mengalihkan praktik membesarkan anak normal pada klien.
Rasional :      Meningkatkan perkembangan optimal.
-          Ajarkan anak untuk mandiri dalam perawatan diri dan berikan alat-alat yang membantu kemandiriannya.
Rasional :      Membantu meningkatkan perkembangan yang optimal.
-          Diskusikan dengan keluarga tentang pentingnya disiplin dan penyusunan batasan-batasan.
Rasional :      Merangsang anak memenuhi kebutuhan ini.
-          Bantu keluarga dalam memilih mainan.
Rasional :      Memaksimalkan penggunaan indera penglihatan dan taktil, serta pendengaran residual.
-          Dorong anak untuk berpartisipasi dalam aktivitas kelompok dan mengembangkan persahabatan dengan teman sebaya.
Rasional :      Membantu meningkatkan sosialisasi dan menciptakan kesenangan pada anak.
-          Bantu anak mengikuti diskusi kelompok dengan menunjuk pembicara dan mengatur kelompok untuk duduk semi lingkaran.
Rasional :      Membantu dalam mendengar dan/atau membaca gerak bibir.
-          Anjurkan menggunakan televisi yang memakai tulisan.
Rasional :      meningkatkan kesenangan pada anak.
-          Diskusikan dengan guru dan anak tentang cara berkomunikasi efektif..
Rasional :      Memfasilitasi pendidikan anak

Perubahan proses keluarga berhubungan dengan diagnosa ketulian pada anak.
§  Sasaran :
-          Pasien (keluarga) menyesuaikan diri terhadap kehilangan pendengaran.
-          Pasien (keluarga) mendapat dukungan emosional.
-          Keluarga menunjukan kedekatan pada anak.
§  Hasil yang diharapkan :
-          Keluarga mengekspresikan kekhawatirannya terhadap kehilangan pendengaraan pada anak
-          Keluarga menunjukan pemahaman tentaang implikasi kehilangan pendengaran.
-          Keluarga terlibat dalam program yang tepat dan menyediakan diri menjadi sumber.
-          Keluarga menunjukan hubungan yang positif.
§  Intervensi :
-          Beri kesempatan pada keluarga untuk mengekspresikan dan kekhawatirannya
Rasional :      Meningkatkan penyesuaian.
-          Antisipasi reaksi berduka dan bantu keluarga menghadapi perasaannya tentang respon sebelumnya terhadap anak.
Rasional :      Meminimalkan perasaan bersalah dan sebagai penyesuaian terhadap kehilangan.
-          Diskusikan keuntungn dan batasan alat bantu dengan jenis kehilangan pendengaran yang berbeda.
Rasional :      Membantu keluarga untuk membuat keputusan berdasarkan informasi.
-          Dorong rehabilitasi formal sesegera mungkin.
Rasional :      Membantu mengembangkan pertumbuhan dan perkembangan normal anak.
-          Bantu keluarga untuk bepartisipasi dan mendiskusikan perasaan mereka.
Rasional :      Meningkatkan koping dan membantu memberikan dukungan bagi klien.
-          Tekankan kemampuan anak bukan ketidakmampuannya.
Rasional :      Meningkatkan perkembangan optimal pada anak.
-          Bantu keluarga mengidentifikasi petunjuk-petunjuk verbal untuk meningkatkan komunikasi anaknya.
Rasional :      Membantu meningkatkan kemampuan komunikasi sebagai bagian penting dari proses kedekatan.
-          Dorong keluarga untuk menstimuli anak dengan isyarat visual dan tekankan untuk terus berbicara dengan anak meskipun ia tidak mendengar.
Rasional :      Meningkatkan normalisasi dan membantu anak memahami penggunaan bahasa isyarat.

Resiko tinggi cedera berhubungan dengan bahaya lingkungan, infeksi.
§  Sasaran :
-          Pasien tidak mengalami kehilangan pendengaran yang lebih parah.
§  Hasil yang diharapkan :
-          Anak tidak mengalami pendengaran.
-          Anak tidak terpapar pada tingkat kebisingan yang berlebihan.
-          Anak diimunisasi dengan cepat.
§  Intervensi :
-          Bagi bayi, anjurkan untuk imunisasi pada usia yang tepat.
Rasional :      Mencegah kehilangan pendengaran sesorineural yang didapat karena penyakit masa anak-anak.
-          Minimalkan tingkat kebisingan
Rasional :      Mencegah kerusakan atau kehilangan pendengaran.
-          Cegah infeksi telinga dengan melakukan deteksi ini.
Rasional :      Mencegah kehilangan pendengaran sesorineural.
-          Tingkatkan kepatuhan terhadap terhadap program pengobatan terhadap otitis media.
Rasional :      Mencegah terjadinya kerusakan pendengaran akibat otitis media dan membantu perbaikan.
-          Evaluasi kemampuan auditorius yang cenderung mengalami masalah telinga.
Rasional :      Mendeteksi dini kerusakan pendengaran.
-          Kaji sumber-sumber kebisingan yang berlebihan disekitar anak dan lakukan tindakan untuk mengurangi tingkat kebisingan.
Rasional :      Kebisingan yang berlebihan menyebabkan kehilangan pendengaran sesorineural.

Hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi/peradangan.
§  Hasil yang diharapkan : Anak menunjukan suhu tubuh dalam batas normal (37˚C)
§  Intervensi :
-          Pantau suhu tubuh anak setiap 1-2 jam, perhatikan apakah anak menggigil.
Rasional :      Untuk memantau peningkatan suhu tiba-tiba. Suhu 38,9˚C – 41,1˚C menunjukan proses infeksi. Menggigil sering mendahului puncak peningkatan suhu.
-          Pertahankan lingkungan yang sejuk.
Rasional :      Suhu ruangan harus diubah untuk mempertahakan suhu mendekati normal.
-          Beri kompres hangat dan hindari penggunaan alkohol/es.
Rasional :      Membantu mengurangi demam. Alkohol/air es dapat menyebabkan kedinginan dan mengeringkan kulit.
-          Beri antipiretik (asetaminofen, ibuprofen) esuai indikasi.
Rasional :      Mengurangi demam dengan aksi sentral pada hipotalamus.
Kecemasan orang tua berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang konisi anaknya.
§  Hasil yang diharapkan : Kecemasan orang tua berkurang yang ditandai dengan meningkatnya kemampuan mereka dalam mendampingi dan memberi dukungan pada anak dengan menjelaskan kondisinya.
§  Intervensi :
-          Berikan informasi yang adekuat pada orang tua dan keluarga.
Rasional :      Informasi yang adekuat merupakan suatu apek penting dalam membantu proses perawatan klien.
-          Biarkan orang tua tetap mendampingi klien selama hospitalisasi.
Rasional :      Orang tua dapat mengetahui perkembangan informasi tentang kondisi anaknya.
-          Kaji pehaman orang tua tentang kondisi anaknya dan gambaran perawatan.
Rasional :      Mengetahui seberapa jauh pemahaman orang tua tentang konsi anaknya dan gambaran perawatan sehingga dapat membantu dalam melaksanakan intervensi selanjutnya.
-          Jelaskan semua prosedur pada anak dan orang tua (keluarga).
Rasional :      Untuk meminimalkan rasa takut/cemas terhadap hal-hal yang tidak diketahui.
-          Beri dukungan emosional pada orang tua  selama anak masih dirawat di RS.
Rasional :      Diharapkan orang tua dapat mengenal dan menghadapi rasa cemas dengan adanya dukungan dan konseling.



BAB III
PENUTUP


III.1  Kesimpulan

Berdasarkan uraian tersebut diatas maka dapat dismpulkan beberapa hal yaitu sebagai berikut :
1.       Cacat ganda merupakan keadaan dimana terjadi kerusakan / ketidakmampuan dalam proses pendengaran yang baik itu konduktif ataupun sensorineural, yang diikuti oleh gangguan dalam berbicara/berbahasa sebagai manifestasi dari kerusakan reseptor yang berfungsi sebagai transmisi impuls suara.
2.       Gangguan pendengaran ini disebabkan oleh berbagai faktor terutama selama masa pre-nataal, perinatal dan post-natal. Tidak semua gangguan pendengaran akan menyebabkan kerusakan/gangguan pada komunikasi.
3.       Untuk memastikan bentuk gangguan bicara dan jenis kerusakan pendengaran serta upaya penanganan yang sesuai diperlukan kerjasama dengan sejumlah ahli dari berbagai disiplin ilmu. Oleh karenya penting untuk mengenal sejak dini tanda-tanda perkembangan pendengaran yang abnormal.

III.2  Saran

Makalah kecil ini mencoba mengupas konsep medis dan konsep keperawatan tentang cacat ganda. Kelompok menyadari bahwa apa yang disajikan masih jauh dari kesempurnaan, dan oleh karenya kelompok sangat mengharapkan masukan dari rekan-rekan mahasiswa dan terlebih kepada Ibu dosen pembimbing mata kuliah ini, sehingga apa yang dibahas diatas tidak hanya merupakan sesuatu yang sifatnya hanya merupakan sebuah konseptual, melainkan dapat menjadi pijakan bagi mahasiswa dalam konteks aplikatifnya.



DAFTAR  PUSTAKA



Nelson, Ilmu Kesehatan Anak, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 1988.

Suwanto R. Hendarmin, Deteksi Dini Gangguan Pendengaran pada Anak untuk Optimalisasi Perkembangan Kecerdasan, Balai Penerbit FKUI, Jakarta, 1996.

Roamadewi, Terapi Wicara pada Anak dengan Gangguan Keterlambatan Wicara dan Bahasa, Akademi Terapi Wicara – YBC, Jakarta, 2000.

Donna L. Wong, Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 2003.

Arif Manjoer dkk., Kapita Selekta Kedokteran, Media Aesculapius, FKUI, Jakarta, 2001.

Internet.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar